Bulan: Januari 2017

STTV, Santun Televisi

Rasa penasaran beberapa pengamatan pertelevisian akhirnya terjawab. STTV atau yang dikenal dengan nama Santun Televisi ternyata dimiliki oleh Siantar Top, sebuah produsen makanan ringan yang menyasar anak-anak menjadi target utama pemasaran. Bukti lainnya berupa beberapa iklan produk Siantar Top seperti Twistko, Go Potato, dan produk lain yang sering berseliweran di stasiun TV jaringannya, salah satunya TV9 Nusantara yang berlokasi di Surabaya.

Ruang kendali siar STTV

A post shared by Santun Televisi (@santun_televisi) on

Jadi, aku tegasin ya kalau STTV itu semacam production house (rumah produksi) lah kayak di film-film atau sinetron gitu. Ya, kayak KOMPASTV dulu yang sebenarnya bukan stasiun TV, tapi hanya sebagai pemasok konten saja yang disiarkan jaringan stasiun TV lokal. 🙂

Anak Maba Pun Bisa Buat Acara Sendiri

Mungkin kita ngerti ya kalau kuliah itu belum tentu menjamin dapet kerja. Aku sendiri pun nyadar hal itu. Karena di dunia kampus itu totally kita mandiri. Apa-apa sendiri. Ya, urus urusanmu sendiri lah pokoknya.

Tapi, aku baru nemu sebuah kampus yang bener-bener “ngemanjain” mahasiswa. Secara gak langsung, mahasiswa dididik kemandirian lebih sejak dini. Yah, salah satunya ngebangun teamwork sesama teman sendiri.

2 hari yang lalu, aku ke sebuah mal di Jawa Timur lihat festival yang diadain kampus itu. Festival isinya seperti biasanya ada bazarnya. Trus, ada lomba-lombanya kayak nyanyi, dance, cosplay, dll. Yang ngehandle acaranya tuh ya mahasiswanya. Tapi, itu festivalnya rame banget, meriah gitu. Aku jadi penasaran kok bisa serame itu.

Ya udah, supaya rasa penasaranku terbayar, aku nekad tanya-tanya salah satu panitia yang lagi enaknya mantau itu.

“Mas, rame banget yah acaranya!”, pujiku sambil menatap matanya.

“Iya nih mas, hari pertama malah rame”, balas dia.

“Kalo boleh tau, acaranya ini tugas akhir kuliah ya?”, tanyaku gitu.

“Iya mas. Ya, cuma tugas. Ini dinilai semua lho. Yang ngerjain ini kami, mahasiswa semester 1. Yang semester 3 itu bagian yang ngambil gambar. Jadi, ini mayoritas anak semester 1 yang handle”, nyerocosnya.

“Masak mas?”, tanyaku sembari menunjukkan rasa tidak percaya.

“Iya bener mas. Kami yang ngerjain semuanya.”, balasnya.

Dia bilang gitu, aku langsung spontan mengacungkan jempol ke orangnya.

“Saya aja sampe nggak bisa tidur mas. Tapi, sekarang rame banget mas.”, tambahnya.”

“Woh. Oke-oke mas. Hebat! Salut deh. Mantep deh”, kataku lagi sambil mengacungkan jempolku lagi.

Wah, baru kali itu aku nemuin acara atau event yang totally overall dikerjain anak maba. Biasanya, anak-anak himapro atau hmj kebanyakan yang ngadain. Saya salut sama kampusnya yang ada usaha nggak ngebiarin mahasiswa jadi pengangguran. Jadi, mungkin mahasiswa di situ nggak ada ruginya spending money banyak-banyak biar jadi orang mandiri.

Sejarah Itu Repetisi Peristiwa

Sejarah itu berarti kejadian yang berulang atau aku bahasakan sendiri artinya repetisi peristiwa. Mungkin yang bisa kukatakan melihat peristiwa akhir-akhir ini yang tidak hanya dirasakan oleh satu daerah saja, tetapi bisa dirasakan getarannya ke seluruh penjuru negeri. Lihat saja sekarang, aku nggak mau sebut kasusnya. Pokoknya kasusnya SARA.

Melihat dari kasus itu, tiba-tiba teringat cerita seorang temanku waktu kecil. Ceritanya, dia pernah nonton tayangan tragedi Sampit. Wuh, dia sampe bilang gini. “Duh, gara-gara nonton itu sampe aku gak selera makan. Lah gimana wong kepala aja dipenggal?”. Ugh, jadi ngeri campur takut perasaanku waktu itu bayangin kalo aku di sana.

Siang tadinya, aku malah ingat tragedi itu lagi. Ya udah, aku googling aja, pengen tahu sejarah sebenarnya gimana. Ternyata, tragedi itu konflik dua suku dari beda pulau. Saya nggak sebutin sukunya deh ntar takutnya jadi ribut.

Kasus SARA memang rentan dan riskan terjadi. Gak cuma tragedi Sampit contohnya. Ambon, Poso, kedua daerah itu juga pernah dilanda konflik. Nah, inilah yang aku sebut sejarah itu kejadian berulang.

Kembali ke judul, ya, betul banget. Tetapi yang aku, kamu, dan kita lakukan adalah belajar dari kekelaman sejarah yang pernah ada. Kita bisa mengulang sejarah kok, asalkan caranya benar. Misalnya, Taufik Hidayat pernah dapet medali emas bulu tangkis Olimpiade Athena 2004. Nah, aku, kamu, dan, kita, bisa mengulang sejarah lebih baik dari Taufik Hidayat atau tokoh-tokoh hebat sebelumnya asalkan caranya bisa membahagiakan Indonesia. Soalnya, Indonesia butuh orang-orang hebat lho. Kalau aku, kamu, dan, kita tidak mengulang sejarah untuk Indonesia lebih baik? Siapa lagi?

*Tulisan ini terinspirasi dari dosenku, Irham Thoriq, dari bukunya Para Pembisik Kedunguan.

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén